Tentang Kami
Tentang DIETMU
DIETMU adalah platform panduan makanan berbasis sains untuk siapa saja yang bergulat dengan asam lambung dan pencernaan yang mudah terganggu. Bukan aplikasi gizi umum, bukan kalkulator kalori — DIETMU hadir untuk satu pertanyaan yang sangat spesifik: “Apakah makanan ini aman untuk perutku?”
Banyak orang dengan pencernaan sensitif sudah terlalu familiar dengan rasa frustrasi itu — sudah menjaga makan, sudah menghindari yang “katanya berbahaya”, tapi keluhan tetap datang. Kembung yang tidak jelas pemicunya. Mulas yang muncul di waktu tak terduga. Rasa melilit di perut yang membuat seharian tidak nyaman. DIETMU lahir dari pemahaman bahwa informasi soal makanan yang beredar selama ini sering terlalu umum, tidak kontekstual, dan tidak memperhitungkan cara makan orang Indonesia sehari-hari. Kami ingin mengubah itu.
DIETMU tidak menilai makanan dari sudut pandang gizi umum. Setiap skor dirancang khusus untuk menjawab kenyamanan lambung dan usus — bukan sekadar “sehat atau tidak sehat”.
Kami tidak memakai porsi laboratorium yang kecil dan tidak realistis. Skor dihitung berdasarkan porsi yang benar-benar dimakan sehari-hari — satu cangkir, satu buah sedang, satu porsi lauk.
Ayam rebus dan ayam goreng tidak diperlakukan sama di DIETMU. Cara pengolahan bisa mengubah respons lambung secara signifikan — dan kami memasukkan itu ke dalam skor.
Setiap makanan punya dua sisi. DIETMU mengakui faktor yang bisa memperburuk keluhan, sekaligus memberi kredit pada hal-hal yang melindungi dan mendukung pencernaan.
Tidak ada jargon klinis berat di sini. Kami berbicara tentang perut melilit, kembung setelah makan, mulas yang tiba-tiba — dan apa yang bisa Anda lakukan dengan informasi itu dalam kehidupan nyata.
Tentang Founder
Kevin D. Sutanto, S.Si., M.Sc adalah lulusan program magister Food and Animal Science di Praha, Ceko — lulus tahun 2015 dengan fokus penelitian pada aktivitas antioksidan dalam pangan. Sebelumnya, ia menyelesaikan studi sarjana sains di bidang Bioteknologi, Universitas Surabaya (Ubaya), dengan konsentrasi pada mikrobiologi makanan. Pada tahun 2022, Kevin memperoleh beasiswa untuk program riset lanjutan di universitas yang sama, kali ini berfokus pada herbal dan kesehatan pencernaan — khususnya mengidentifikasi kandidat kuat tanaman herbal Indonesia yang memiliki aktivitas antibakteri tinggi terhadap bakteri penyebab kanker usus besar.
Di luar akademik, Kevin memiliki pengalaman bertahun-tahun sebagai chef — termasuk sebagai sushi chef di Australia, Eropa, dan Amerika. Kombinasi ini memberinya sudut pandang yang tidak biasa: memahami ilmu pangan dari sisi riset sekaligus melihat langsung bagaimana makanan disiapkan dan dinikmati di dapur profesional berbagai negara. Ia juga pernah menyusun buku tentang diet dan kesehatan — dirangkum dari ratusan jurnal ilmiah dan literatur internasional — yang diterbitkan secara mandiri dan beredar di kalangan terbatas.
Namun yang paling membentuk visi DIETMU adalah pengalamannya sendiri. Kevin memiliki riwayat asam lambung parah dan pencernaan yang sangat sensitif sejak lama. Sumber masalahnya bukan kekurangan tekad, melainkan ketidaktahuan — tidak tahu makanan dan minuman mana yang cocok untuk kondisi pencernaannya. Perut yang terasa terlilit dan ditusuk. Diare yang datang setelah makan tanpa bisa diprediksi. Kondisi ini berulang kali mengganggu aktivitas sehari-hari. Titik baliknya datang ketika ia mulai memasak sendiri dan menyusun program diet secara mandiri — bersandar pada ratusan jurnal ilmiah, pengetahuan dari studi S1 dan M.Sc, serta wawasan dari buku-buku kesehatan bestseller internasional.
Dari sanalah DIETMU lahir. Kevin menyaksikan sendiri betapa banyak informasi soal makanan dan asam lambung yang beredar tidak akurat atau menyesatkan. Ia percaya bahwa perubahan pola makan adalah jalan jangka panjang yang paling masuk akal — dan bahwa setiap orang berhak mendapat panduan yang jelas, berbasis bukti, dan disesuaikan dengan konteks makan orang Indonesia yang sesungguhnya. DIETMU dirancang agar pengguna tidak sekadar mengikuti daftar pantangan, tapi memahami mengapa suatu makanan cocok atau tidak cocok untuk kondisi mereka.
Harapannya sederhana: bahwa siapa pun yang mencari informasi di DIETMU bisa pulang dengan keputusan makan yang lebih tenang, lebih terukur, dan tanpa rasa takut yang tidak perlu.
Tentang Skor DIETMU
Skor DIETMU adalah angka 0–100 yang menggambarkan seberapa ramah satu makanan untuk asam lambung dan pencernaan sensitif. Angka 100 didefinisikan sebagai mendekati “seaman air putih” untuk perut yang mudah terganggu. Semakin tinggi angkanya, semakin kecil kemungkinan makanan itu memicu kembung, mulas, atau perut melilit.
FODMAP adalah kelompok karbohidrat fermentabel yang dapat memicu kembung, gas, dan ketidaknyamanan pada usus sensitif. DIETMU menilainya berdasarkan porsi yang benar-benar dimakan orang Indonesia — bukan porsi kecil dari laboratorium.
Makanan yang sama bisa memberi respons lambung yang berbeda tergantung cara pengolahannya. Rebus dan kukus dianggap netral; goreng dalam minyak banyak mendapat pengurangan skor karena lemak berlebih dapat memperburuk keluhan asam lambung.
Lemak total tinggi, gula tambahan, bumbu yang mengiritasi (cabai kuat, sangat asam, kafein pekat, bersoda), alkohol, dan tingkat pemrosesan yang sangat tinggi — semuanya ikut diperhitungkan.
Protein berkualitas, lemak sehat, vitamin dan mineral penting, probiotik dari fermentasi, antioksidan dan senyawa anti-inflamasi dari tanaman dan herbal — semua memberi kredit positif pada skor akhir.
Hasil akhirnya diterjemahkan ke dalam lima kategori yang mudah dipahami:
Cara pakainya sederhana: cari makanan yang ingin Anda cek, lihat skornya, baca ringkasan singkat tentang faktor utama di balik skor itu, lalu sesuaikan porsi, frekuensi, dan cara olah. Saat keluhan sedang aktif, prioritaskan kategori AMAN atau RELATIF AMAN. Saat kondisi stabil, kategori HATI-HATI mungkin masih bisa dicoba dalam porsi yang lebih kecil dari biasanya.
Ingin memahami metodologi lebih dalam? Baca halaman Metodologi Skor DIETMU →